5 Parameter Kelistrikan yang Wajib Dimonitoring dalam Kegiatan Power Profiling untuk Membantu Mengidentifikasi Kualitas Jaringan Kelistrikan Anda

5 Parameter Kelistrikan yang Wajib Dimonitoring dalam Kegiatan Power Profiling untuk Membantu Mengidentifikasi Kualitas Jaringan Kelistrikan Anda


Pada konten Artikel Website kali ini, saya akan memperkenalkan suatu metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui Kualitas Jaringan Kelistrikan dan Konsumsi Daya Listrik pada Sistem. Metode ini dikenal sebagai Power Profiling. Apa yang dimaksud dengan Power Profiling, bagaimana cara pelaksanaannya, dan manfaat apa yang dapat diperoleh dari kegiatan ini? Pantau terus artikel terbaru kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Apa itu Power Profiling?

Pertama-tama, apa itu Power Profiling? Secara sederhana, Power Profiling merupakan suatu metode atau teknik untuk mengidentifikasi kualitas jaringan kelistrikan. Mungkin Anda bertanya, mengapa perlu memonitor jaringan listrik? Energi Listrik yang digunakan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, atau lingkungan kerja, tidak selalu beroperasi secara optimal. Tentu saja, masalah-masalah muncul, dan jika tidak segera diidentifikasi, dapat menyebabkan kerusakan pada sistem atau beban kelistrikan yang menerima energi listrik yang tidak optimal. Dampaknya dapat berupa gangguan kinerja sistem, kerusakan pada bahan isolator, mati listrik (Blackout), dan bahkan dapat menimbulkan kebakaran yang membahayakan nyawa manusia. Oleh karena itu, metode Power Profiling menjadi suatu keharusan.

kebakaran

5 Parameter utama yang wajib kalian monitoring dalam kegiatan Power Profiling

Lalu apa saja sih parameter kelistrikan yang wajib dimonitoring dalam Metode Power Profiling?
Secara singkat ada 5 Parameter utama yang wajib kalian monitoring dalam kegiatan Power Profiling, antara lain :

  1. Tegangan (Voltage)
tegangan

Tegangan juga dapat dikaitkan dengan sumber daya listrik seperti baterai atau generator, yang memberikan dorongan atau potensial listrik untuk mendorong aliran arus dalam rangkaian. Tegangan yang diberikan oleh sumber daya listrik menentukan seberapa besar aliran arus yang akan melewati komponen atau perangkat dalam rangkaian. Selain itu tegangan merupakan salah satu parameter kelistrikan yang wajib dimonitoring dalam Kegiatan Power Profiling, apakah terdapat masalah yang terjadi dalamnya karena akan dapat menghambat dan mengganggu kinerja sistem kelistrikan, seperti Over Voltage, Under Voltage, Unbalance Voltage, Dip/Swell dan Transient Voltage yang pada Artikel sebelumnya sudah sempat dibahas.

2. Arus Listrik (Current)

arus listrik

 Arus merupakan Partikel Elektron yang terkandung didalam suatu Tegangan Listrik saat berinduksi dan menghasilkan energi listrik. Arus listrik merupakan salah satu parameter juga yang mempengaruhi kinerja suatu sistem dan beban kelistrikan, kestabilan nilai arus yang dihasilkan akan mempengaruhi kinerja suatu sistem, selain itu nilai arus listrik yang tidak stabil dan melampaui ambang batas yang telah ditentukan, dapat mengakibatkan kerusakan suatu sistem, seperti kebocoran arus, serta pemborosan penggunaan daya listrik. Maka dari itu, Arus Listrik (Current) wajib dimonitoring dalam kegiatan Power Profiling.

3. Frekuensi Listrik

Secara sederhana, frekuensi listrik itu sendiri merupakan aliran kerja jaringan kelistrikan kepada setiap beban maupun sistem yang mendapatkan energi listrik tersebut per satuan waktu, semakin baik kinerja jaringan kelistrikan, maka frekuensi yang dihasilkan wajib di dalam ambang batas standar yang telah ditentukan, frekuensi listrik yang dibawah ambang batas standar akan membuat kinerja Sistem dan Beban Listrik menjadi menurun, maka dari itu perlu diperhatikan besarnya kinerja frekuensi listrik yang dihasilkan.

frekuensi listrik

4. Daya Listrik

Daya Daya listrik adalah jumlah energi listrik yang digunakan atau dihasilkan oleh suatu perangkat atau sistem listrik dalam satu satuan waktu. Daya listrik diukur dalam watt (W) dan merupakan hasil perkalian antara tegangan (voltase) dan arus listrik.

Secara matematis, daya listrik dapat dihitung menggunakan rumus:

Daya (P) = Tegangan (V) × Arus (I)

Di mana:

  • Daya (P) diukur dalam watt (W)
  • Tegangan (V) diukur dalam volt (V)
  • Arus (I) diukur dalam ampere (A)

Daya listrik menggambarkan seberapa cepat energi listrik dikonsumsi atau diproduksi oleh suatu perangkat. Semakin tinggi daya listrik suatu perangkat, semakin besar energi listrik yang dikonsumsi atau diproduksi per unit waktu. Lalu kenapa sih daya listrik ini perlu dimonitoring dalam kegiatan power profiling?

Secara singkat daya listrik ini sendiri merupakan Energi yang dihasilkan serta dikonsumsi oleh setiap beban kelistrikan, baik itu pada Lampu, Lift, AC, Komputer dan beberapa peralatan elektronik lainnya, daya listrik yang disalurkan dari sumber maupun yang dikonsumsi oleh setiap beban kelistrikan wajib stabil dan optimal untuk menjaga kinerja sistem, selain itu daya listrik sendiri merupakan salah satu parameter kelistrikan utama yang dimonitoring dalam kegiatan Audit Konsumsi Energi Listrik, untuk dapat mengetahui efisiensi penggunaan daya listrik, apakah sudah efisien atau tidak.

Selain itu daya listrik ini sendiri, dapat menjadi salah satu parameter yang menentukan terjadinya suatu kerusakan maupun masalah dalam jaringan kelistrikan, seperti pada rumus diatas, bahwa daya listrik merupakan hasil perkalian antara Tegangan dan Arus dalam setiap satuan waktu, apabila terjadi suatu masalah dalam daya listrik yang dihasilkan maupun digunakan, maka juga dapat dipengaruhi dan berasal dari tegangan maupun arus yang dihasilkan terdapat sebuah permasalahan atau biasa disebut sebagai Event Kelistrikan yang pada konten artikel sebelumnya telah dibahas.

daya listrik

5. Faktor Daya (Power Factor)

Power factor adalah ukuran yang menggambarkan efisiensi penggunaan energi listrik oleh peralatan atau sistem listrik. Ini mengacu pada perbandingan antara daya nyata yang benar-benar digunakan (daya aktif) dengan daya yang disediakan oleh sumber listrik (daya semu). Dalam kata lain, power factor menjelaskan sejauh mana peralatan menggunakan energi listrik yang diberikan secara efisien. Power factor memiliki nilai antara 0 hingga 1, dan semakin mendekati 1, semakin efisien peralatan tersebut menggunakan energi listrik.

Peralatan dengan power factor yang rendah cenderung “mengkonsumsi” lebih banyak daya listrik daripada yang sebenarnya dibutuhkan. Ini dapat menyebabkan pemborosan energi, meningkatkan biaya listrik, dan membebani sistem listrik secara keseluruhan. Untuk meningkatkan power factor, biasanya digunakan perangkat yang disebut koreksi faktor daya (power factor correction). Koreksi faktor daya membantu menyesuaikan peralatan agar menggunakan energi listrik secara lebih efisien dan mengurangi kerugian daya yang tidak perlu.

faktor daya

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya, power factor adalah satuan ukuran untuk menentukan efisiensi penggunaan energi listrik oleh peralatan atau sistem. Semakin tinggi nilai power factor, semakin efisien penggunaan energi listrik dan semakin sedikit energi yang terbuang. Maka dari itu, power factor merupakan salah satu parameter kelistrikan yang wajib untuk dimonitoring dalam kegiatan Power Profiling.

Dari kelima parameter kelistrikan yang wajib dimonitoring dalam kegiatan Power Profiling ini, maka akan dibutuhkan suatu Alat yang akan membantu kalian nantinya dalam mengukur dan memonitoring nilai setiap parameter kelistrikan tersebut, apakah masih dalam ambang batas standar atau sudah melampaui ambang batas yang telah dipersyaratkan, karena dapat menjadi indikasi awal terjadinya suatu gangguan, kerusakan ataupun kesalahan dalam pengoperasian jaringan listrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai Ngobrol
Halo, Selamat Datang Di PT. Radius Allkindo Electric
Jika ada yang ingin ditanyakan tentang produk dan layanan kami, jangan sungkan untuk bertanya :D