Mengapa Tegangan Listrik Gedung / Bangunan Meningkat Pada Malam Hari ? Memahami Penyebab Overvoltage (Voltage Swell) & Cara Analisisnya Menggunakan Hioki PQ3198

Power Quality

Sistem kelistrikan pada bangunan modern mendukung berbagai peralatan penting, seperti HVAC, lift, pompa, pencahayaan, UPS (Uninterruptible Power Supply), server, hingga Building Management System (BMS). Keandalan seluruh sistem tersebut sangat bergantung pada kualitas pasokan listrik. Selama ini, perhatian pengelola gedung umumnya lebih terfokus pada gangguan seperti pemadaman listrik atau voltage sag, padahal kenaikan tegangan (overvoltage) juga merupakan salah satu fenomena power quality yang dapat memengaruhi kinerja dan umur pakai peralatan listrik.

Salah satu fenomena yang sering dijumpai adalah meningkatnya tegangan listrik pada malam hari ketika konsumsi daya gedung menurun. Kondisi ini dapat memicu alarm pada UPS, trip pada Variable Frequency Drive (VFD), hingga mempercepat degradasi perangkat elektronik jika terjadi secara berulang. Lantas, mengapa tegangan justru meningkat saat beban berkurang?

Mengenal Overvoltage Atau Voltage Swell

Dalam kajian power quality, kenaikan tegangan sementara dikenal sebagai voltage swell, yaitu peningkatan nilai RMS tegangan hingga sekitar 110%–180% dari tegangan nominal dengan durasi 0,5 siklus hingga 1 menit, sebagaimana didefinisikan dalam IEEE Std 1159. Jika kenaikan tegangan berlangsung lebih lama, kondisi tersebut dikategorikan sebagai sustained overvoltage. Pada sistem tegangan rendah di Indonesia yang umumnya menggunakan tegangan nominal 230 V, kenaikan tegangan di luar batas toleransi perlu dianalisis untuk mengetahui penyebabnya.

Voltage Swell

Perlu dipahami bahwa tidak semua kenaikan tegangan merupakan gangguan. Perubahan beberapa volt masih dapat terjadi sebagai variasi normal akibat perubahan beban pada sistem distribusi. Namun, jika kenaikan tegangan terjadi secara berulang atau memicu alarm pada peralatan listrik, kondisi tersebut memerlukan investigasi lebih lanjut. Berbeda dengan transient overvoltage yang hanya berlangsung dalam orde mikrodetik hingga milidetik akibat petir atau proses switching, voltage swell memiliki durasi lebih lama sehingga dapat dideteksi dan dianalisis menggunakan Power Quality Analyzer.

Mengapa Tegangan Listrik Naik Ketika Beban Gedung Menurun ?

Secara sederhana, kenaikan tegangan pada malam hari terjadi karena beban listrik gedung berkurang. Pada siang hari, berbagai peralatan seperti sistem HVAC, lift, pompa, pencahayaan, dan peralatan tenant beroperasi secara bersamaan sehingga arus yang mengalir pada kabel distribusi menjadi besar. Kondisi ini menyebabkan terjadinya rugi tegangan (voltage drop) pada penghantar, yang secara sederhana dapat dijelaskan dengan persamaan

Voltage Drop = I × Z,

di mana I adalah arus dan Z adalah impedansi penghantar. Semakin besar arus yang mengalir, semakin besar pula rugi tegangan yang terjadi.

Ketika malam hari sebagian besar beban dimatikan, arus pada sistem menurun sehingga rugi tegangan di sepanjang kabel juga berkurang. Akibatnya, tegangan yang sampai ke panel distribusi menjadi lebih tinggi dan mendekati tegangan keluaran transformator. Dengan kata lain, tegangan sebenarnya tidak bertambah, melainkan penurunan tegangannya menjadi lebih kecil karena beban berkurang. Fenomena ini merupakan karakteristik normal sistem distribusi listrik dan umum dijumpai pada gedung perkantoran, hotel, rumah sakit, pusat perbelanjaan, maupun bangunan komersial lainnya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kenaikan Tegangan Pada Sistem Kelistrikan Gedung

1. Penurunan Beban Operasional Gedung

Pada bangunan komersial, perubahan profil beban merupakan kondisi yang terjadi setiap hari. Ketika jam operasional berakhir, berbagai peralatan berdaya besar mulai berhenti beroperasi sehingga total konsumsi daya gedung turun secara signifikan.

Beberapa contoh perubahan beban yang umum terjadi meliputi:

  • Chiller dan Cooling Tower beroperasi dengan kapasitas lebih rendah atau berhenti.
  • Air Handling Unit (AHU) hanya melayani area tertentu.
  • Lift dan eskalator mengalami penurunan frekuensi penggunaan.
  • Lampu pada area kantor, tenant, atau ruang publik dimatikan.
  • Pompa utilitas bekerja secara periodik sesuai kebutuhan.
  • Peralatan kantor seperti komputer, printer, maupun mesin produksi ringan tidak lagi digunakan.

2. Pengaturan Tap Transformator

Gedung bertingkat, rumah sakit, pusat data (data center), maupun kawasan komersial umumnya memiliki transformator distribusi sendiri sebagai sumber tegangan untuk instalasi internal.

Transformator tersebut biasanya dilengkapi dengan Tap Changer, yaitu mekanisme yang digunakan untuk menyesuaikan tegangan keluaran agar tetap berada dalam batas yang diinginkan. Pengaturan ini dilakukan untuk mengimbangi variasi tegangan dari sisi jaringan maupun perubahan beban.

Namun, apabila posisi tap disetel untuk mengantisipasi penurunan tegangan saat beban maksimum, kondisi yang berbeda dapat terjadi ketika beban menurun drastis.

Sebagai contoh, sebuah transformator mungkin diatur agar mampu mempertahankan tegangan sekitar 230 V saat gedung beroperasi penuh. Ketika sebagian besar beban berhenti pada malam hari, rugi tegangan pada sistem berkurang sehingga tegangan keluaran transformator yang sebelumnya sesuai justru menjadi relatif lebih tinggi pada sisi beban.

Oleh karena itu, evaluasi pengaturan tap transformator perlu dilakukan apabila hasil monitoring menunjukkan bahwa kenaikan tegangan terjadi secara konsisten pada waktu tertentu.

3. Pengaruh Capacitor Bank

Selain transformator, Automatic Power Factor Correction (APFC) atau capacitor bank juga dapat memengaruhi profil tegangan suatu instalasi.

Capacitor bank dipasang untuk memperbaiki faktor daya (power factor) sehingga arus reaktif yang ditarik dari jaringan dapat dikurangi. Dalam kondisi normal, sistem ini membantu meningkatkan efisiensi distribusi daya dan mengurangi rugi-rugi listrik.

Namun, ketika beban aktif menurun secara signifikan sementara sebagian kapasitor masih terhubung ke sistem, dapat terjadi kondisi overkompensasi (overcompensation).

Pada kondisi tersebut, sistem memiliki daya reaktif kapasitif yang lebih besar dibandingkan kebutuhan beban sehingga faktor daya berubah menjadi leading. Salah satu dampaknya adalah tegangan pada jaringan distribusi internal dapat meningkat beberapa volt.

Dampak Overvoltage terhadap Operasional Gedung

Tidak semua peralatan listrik memberikan respons yang sama terhadap kenaikan tegangan. Beberapa perangkat masih dapat beroperasi secara normal selama tegangan berada dalam rentang toleransi yang ditetapkan oleh pabrikan. Namun, perangkat elektronik modern umumnya memiliki sistem proteksi yang lebih sensitif terhadap perubahan kualitas daya.

Berikut beberapa dampak yang sering ditemukan pada bangunan komersial.

  1. UPS Menghasilkan Alarm Overvoltage
  2. Variable Frequency Drive (VFD) Mengalami Trip
  3. Penurunan Umur Lampu LED dan Driver Elektronik
  4. Gangguan pada Server dan Sistem Otomasi Gedung

Analisis Overvoltage Menggunakan Power Quality Anaylyzer Hioki PQ3198

Setelah memahami bahwa kenaikan tegangan pada malam hari dapat dipengaruhi oleh perubahan profil beban, langkah berikutnya adalah membuktikan fenomena tersebut melalui pengukuran. Dalam dunia pemeliharaan fasilitas (facility maintenance), keputusan teknis yang diambil berdasarkan data akan jauh lebih akurat dibandingkan keputusan yang hanya didasarkan pada dugaan atau pengalaman lapangan.

Tidak jarang tim pemeliharaan langsung menyimpulkan bahwa penyebab kenaikan tegangan berasal dari jaringan utilitas, padahal akar masalah justru berada pada sistem distribusi internal gedung. Sebaliknya, ada pula kasus di mana pengelola gedung melakukan penggantian komponen seperti UPS atau VFD karena dianggap rusak, sementara penyebab utamanya adalah kualitas daya yang tidak pernah dianalisis secara menyeluruh.

Oleh karena itu, investigasi kualitas daya memerlukan instrumen yang mampu merekam berbagai parameter listrik secara bersamaan dalam periode waktu tertentu.

Salah satu instrumen yang banyak digunakan untuk keperluan tersebut adalah Hioki PQ3198 Power Quality Analyzer, yaitu alat ukur yang dirancang untuk melakukan pemantauan kualitas daya sesuai standar IEC 61000-4-30 Class A. Perangkat ini mampu merekam tren tegangan, arus, daya aktif, daya reaktif, faktor daya, harmonisa, frekuensi, hingga berbagai kejadian kualitas daya seperti voltage sag, voltage swell, interruption, dan transient event.

Hioki PQ3198 Power Quality Analyzer

Keunggulan utama perangkat ini bukan hanya pada akurasi pengukuran, tetapi juga kemampuannya melakukan monitoring jangka panjang tanpa mengganggu operasional instalasi listrik. Dengan demikian, engineer dapat melihat pola perubahan tegangan selama 24 jam atau bahkan beberapa hari sehingga hubungan antara perubahan beban dan kenaikan tegangan menjadi lebih mudah dianalisis.

Power Quality Analyzer

Kenaikan tegangan listrik pada malam hari merupakan fenomena yang cukup umum dijumpai pada bangunan komersial, terutama ketika konsumsi daya menurun secara signifikan setelah jam operasional berakhir. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kerusakan peralatan ataupun gangguan dari jaringan utilitas, melainkan merupakan konsekuensi dari berkurangnya rugi tegangan pada sistem distribusi ketika arus beban menurun.

Meskipun demikian, overvoltage yang terjadi secara terus-menerus tetap perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi keandalan UPS, VFD, sistem HVAC, perangkat elektronik sensitif, serta berbagai infrastruktur penting lainnya di dalam gedung.

Oleh sebab itu, proses investigasi sebaiknya dilakukan berdasarkan data hasil pengukuran, bukan sekadar asumsi. Penggunaan Power Quality Analyzer seperti HIOKI PQ3198 memungkinkan engineer memperoleh gambaran menyeluruh mengenai hubungan antara tegangan, arus, daya, faktor daya, harmonisa, serta berbagai kejadian kualitas daya lainnya. Dengan pendekatan berbasis data tersebut, penyebab overvoltage dapat diidentifikasi secara lebih akurat sehingga tindakan korektif yang dilakukan menjadi lebih tepat sasaran.

Melalui monitoring kualitas daya yang dilakukan secara berkala, pengelola gedung tidak hanya dapat mengurangi risiko gangguan operasional, tetapi juga meningkatkan keandalan sistem kelistrikan, memperpanjang umur peralatan, dan mendukung efisiensi operasional dalam jangka panjang.

Reference

  1. Dugan, R. C., McGranaghan, M. F., Santoso, S., & Beaty, H. W. (2012). Electrical Power Systems Quality (3rd ed.). McGraw-Hill Education.
  2. IEEE Standards Association. (2019). IEEE Std 1159-2019: IEEE Recommended Practice for Monitoring Electric Power Quality.
  3. International Electrotechnical Commission. (2015). IEC 61000-4-30: Electromagnetic Compatibility (EMC) – Part 4-30: Testing and Measurement Techniques – Power Quality Measurement Methods.
  4. International Electrotechnical Commission. (2019). IEC 61000-2-2: Compatibility Levels for Low-Frequency Conducted Disturbances and Signalling in Public Low-Voltage Power Supply Systems.
  5. HIOKI E.E. Corporation. (2023). PQ3198 Power Quality Analyzer Instruction Manual.
  6. HIOKI E.E. Corporation. (2023). PQ3198 Power Quality Analyzer Catalog.
  7. Bollen, M. H. J. (2000). Understanding Power Quality Problems: Voltage Sags and Interruptions. IEEE Press.
  8. Arrillaga, J., Watson, N. R., & Chen, S. (2000). Power System Quality Assessment. John Wiley & Sons.
  9. Das, J. C. (2015). Power System Harmonics and Passive Filter Designs. Wiley-IEEE Press.
  10. Gonen, T. (2014). Electric Power Distribution Engineering (3rd ed.). CRC Press.